Ke Elokan Tersembunyi Goa Ngesong di Desa Pulosari

Ke Elokan Tersembunyi Goa Ngesong di Desa Pulosari

Hari ini 5.307 pengunjung Website Desa Pulosari sejak 3 September 2015 sudah mewarnai duniya maya baik yang memberikan tanggapan komentar maupun sekedar melihat karya tulis maupun media informasi yang di buat PemDes Pulosari hari ini pula mulai berdatangan untuk membuktikan ke elokan panorama Desa Wisata Yang di gagas Desa Pulosari , Candi Arimbi yang indah dipandang dengan relip relipnya yang konon membawa mistis bagi penduduk pulosari,kehadiran goa atau Curukan Ngesong konon curukan yang berjumlah dua ini saling berhubungan dan keterkaitan ditambah kilau Grojokan Parang Ondo serta deretan Parang Dhowo yang sangat indah dan memanjakan mata kita tuk melihat, bagi pengunjung akan di dampingngi seorang pemandu sekaligus Danton Linmas Desa Pulosari yang santun (sebut saja Taram) mulai berdatangan dari kalangan wisatawan, pejabat, media, pelajar dan mahasiswa juga budayawan, semoga pulosari menjadi Desa Wisata alternatif kunjungan di kabupaten Jombang. BARENG, (kabarjombang.com) – Wana wisata alam nan elok, Goa Ngesong, yang berada di bukit antara Dusun Pulosari dan Sumbermulyo, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, merupakan potensi wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungia Wana wisata masih alami yang berada di selatan Candi Arimbi ini, menurut Kepala Dusun (Kasun) Pulosari, Widji, ditemukan warga saat mencari rumput untuk kebutuhan makan hewan ternaknya, belum lama ini. “Kalau berdasarkan karakter Goa, mungkin lebih pas dinamakan curukan, karena kurang besar,” katanya di lokasi Goa tersebut. Uniknya, kondisi goa yang berada di aliran sungai Sumber Bengawan (Sumber Watumayung), di bawah Gunung Anjasmoro ini, menembus bukit, yakni bibir goa menghadap ke barat dan timur. “Makanya dinamakan Ngesong, bahasa Jawa yang artinya tembus. Sayangnya, goa yang menghadap ke barat ditutup batu besar,” papar Widji. Konon, lanjutnya, goa tersebut merupakan sarang kirik (anjing) kikik, yakni hewan pemangsa manusia, dan digunakan hal-hal mistis. Agar anjing tersebut tidak keluar, sekitar kedalaman 4 meter dari bibir goa yang menghadap ke barat tersebut, ditutup dengan sebongkah batu besar oleh seorang yang sakti mandraguna. Hinggi kini, batu tersebut masih tampak menonjol diantara dinding goa. Sementara pintu Goa Ngesong, diyakini berada di bagian barat atau menghadap ke timur. Posisi ini berlawanan dengan pintu Candi Arimbi yang menghadap ke barat. “Konon, posisi ini melambangkan bentuk syukur orang-orang terdahulu. Secara geologi, kemungkinan besar goa ini ada kaitannya dengan Candi Arimbi,” paparnya. Untuk mencapai goa yang tertutup oleh batu besar dari pintu Goa Ngesong, hanya bisa ditempuh memutar menyusuri bibir sungai dengan berjalan kaki. Namun, para pengunjung diharap ekstra hati-hati, sebab saat musim penghujan, jalanan tersebut licin. Letih menyusuri bibir sungai, seakan hilang oleh keelokan hamparan sawah terasiring. Ditambah, dengan eloknya Grojokan Parangondo. Gemericik airnya membawa pesona asri dan nyaman, khas pegunungan. Disamping itu, hamparan hutan jati memanjakan mata siapa saja yang menyusurinya. “Kira-kira berjarak 300 meter dari pintu Goa,” kata Widji. Sementara untuk menuju pintu Goa cukup mudah. Jalan masuk menuju Goa Ngesong sekitar 200 meter selatan Balai Desa Pulosari yang berada di pinggir jalan raya jurusan Candi Arimbi – Wonosalam. Selanjutnya, bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau sepeda motor. Namun, bagi pengendara motor hanya mampu menempuh sekitar 200 meter. Selanjutnya, harus berjalan kaki menuruni jalan setapak agak curam sekitar 100 meter. Pintu goa Ngesong, tepat di seberang sungai yang memiliki potensi untuk olahraga arung jeram ini. Hingga saat ini, kata Widji, wana wisata Goa Ngesong, sudah dikunjungi oleh beberapa akademisi, dan pihak Kecamatan Bareng untuk dilakukan penggalian potensinya. “Sebelumnya, sudah dikunjungi dari Mahasiswa Untag dan Undar, untuk digali dan diteliti potensinya. Kami berharap, Pemkab Jombang atau pihak lain memberi perhatian, agar potensi wisata di Desa Pulosari bisa dikembangkan,” harap Widji. Sementara Sekretaris Desa Pulosari, Muchammad Nurul, berkomitmen agar potensi wisata di Desa Pulosari segera dikembangkan, seperti akses jalan dan fasilitas lainnya. “Kita masih menata piranti-piranti yang dibutuhkan. Agar konsep Pulosari sebagai desa wisata segera terealisasi,” katanya. Selain Kasun Pulosari Widji, dalam napak tilas tersebut, KabarJombang.com dipandu oleh Sekretaris Desa setempat Muchammad Nurul, Staf Pemerintahan Imam Suyono, Kasun Sumber Mulyo Suwandori, Danton Hansip Rohudi atau biasa disapa Taram. (rief) Ke Elokan Tersembunyi Goa Ngesong di Desa Pulosari Hari ini 5.307 pengunjung Website Desa Pulosari sejak 3 September 2015 sudah mewarnai duniya maya baik yang memberikan tanggapan komentar maupun sekedar melihat karya tulis maupun media informasi yang di buat PemDes Pulosari hari ini pula mulai berdatangan untuk membuktikan ke elokan panorama Desa Wisata Yang di gagas Desa Pulosari , Candi Arimbi yang indah dipandang dengan relip relipnya yang konon membawa mistis bagi penduduk pulosari,kehadiran goa atau Curukan Ngesong konon curukan yang berjumlah dua ini saling berhubungan dan keterkaitan ditambah kilau Grojokan Parang Ondo serta deretan Parang Dhowo yang sangat indah dan memanjakan mata kita tuk melihat, bagi pengunjung akan di dampingngi seorang pemandu sekaligus Danton Linmas Desa Pulosari yang santun (sebut saja Taram) mulai berdatangan dari kalangan wisatawan, pejabat, media, pelajar dan mahasiswa juga budayawan, semoga pulosari menjadi Desa Wisata alternatif kunjungan di kabupaten Jombang. BARENG, (kabarjombang.com) – Wana wisata alam nan elok, Goa Ngesong, yang berada di bukit antara Dusun Pulosari dan Sumbermulyo, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, merupakan potensi wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungia Wana wisata masih alami yang berada di selatan Candi Arimbi ini, menurut Kepala Dusun (Kasun) Pulosari, Widji, ditemukan warga saat mencari rumput untuk kebutuhan makan hewan ternaknya, belum lama ini. “Kalau berdasarkan karakter Goa, mungkin lebih pas dinamakan curukan, karena kurang besar,” katanya di lokasi Goa tersebut, Sabtu (19/12/2015). Uniknya, kondisi goa yang berada di aliran sungai Sumber Bengawan (Sumber Watumayung), di bawah Gunung Anjasmoro ini, menembus bukit, yakni bibir goa menghadap ke barat dan timur. “Makanya dinamakan Ngesong, bahasa Jawa yang artinya tembus. Sayangnya, goa yang menghadap ke barat ditutup batu besar,” papar Widji. Konon, lanjutnya, goa tersebut merupakan sarang kirik (anjing) kikik, yakni hewan pemangsa manusia, dan digunakan hal-hal mistis. Agar anjing tersebut tidak keluar, sekitar kedalaman 4 meter dari bibir goa yang menghadap ke barat tersebut, ditutup dengan sebongkah batu besar oleh seorang yang sakti mandraguna. Hinggi kini, batu tersebut masih tampak menonjol diantara dinding goa. Sementara pintu Goa Ngesong, diyakini berada di bagian barat atau menghadap ke timur. Posisi ini berlawanan dengan pintu Candi Arimbi yang menghadap ke barat. “Konon, posisi ini melambangkan bentuk syukur orang-orang terdahulu. Secara geologi, kemungkinan besar goa ini ada kaitannya dengan Candi Arimbi,” paparnya. Untuk mencapai goa yang tertutup oleh batu besar dari pintu Goa Ngesong, hanya bisa ditempuh memutar menyusuri bibir sungai dengan berjalan kaki. Namun, para pengunjung diharap ekstra hati-hati, sebab saat musim penghujan, jalanan tersebut licin. Letih menyusuri bibir sungai, seakan hilang oleh keelokan hamparan sawah terasiring. Ditambah, dengan eloknya Grojokan Parangondo. Gemericik airnya membawa pesona asri dan nyaman, khas pegunungan. Disamping itu, hamparan hutan jati memanjakan mata siapa saja yang menyusurinya. “Kira-kira berjarak 300 meter dari pintu Goa,” kata Widji. Sementara untuk menuju pintu Goa cukup mudah. Jalan masuk menuju Goa Ngesong sekitar 200 meter selatan Balai Desa Pulosari yang berada di pinggir jalan raya jurusan Candi Arimbi – Wonosalam. Selanjutnya, bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau sepeda motor. Namun, bagi pengendara motor hanya mampu menempuh sekitar 200 meter. Selanjutnya, harus berjalan kaki menuruni jalan setapak agak curam sekitar 100 meter. Pintu goa Ngesong, tepat di seberang sungai yang memiliki potensi untuk olahraga arung jeram ini. Hingga saat ini, kata Widji, wana wisata Goa Ngesong, sudah dikunjungi oleh beberapa akademisi, dan pihak Kecamatan Bareng untuk dilakukan penggalian potensinya. “Sebelumnya, sudah dikunjungi dari Mahasiswa Untag dan Undar, untuk digali dan diteliti potensinya. Kami berharap, Pemkab Jombang atau pihak lain memberi perhatian, agar potensi wisata di Desa Pulosari bisa dikembangkan,” harap Widji. Sementara Sekretaris Desa Pulosari, Muchammad Nurul, berkomitmen agar potensi wisata di Desa Pulosari segera dikembangkan, seperti akses jalan dan fasilitas lainnya. “Kita masih menata piranti-piranti yang dibutuhkan. Agar konsep Pulosari sebagai desa wisata segera terealisasi,” katanya. Selain Kasun Pulosari Widji, dalam napak tilas tersebut, KabarJombang.com dipandu oleh Sekretaris Desa setempat Muchammad Nurul, Staf Pemerintahan Imam Suyono, Kasun Sumber Mulyo Suwandori, Danton Hansip Rohudi atau biasa disapa Taram.

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan